Kami keluar dari hotel yang hanya berjarak 100 meter dari terminal bandar udara Gardermoen, di Oslo, Norwegia. Sebelumnya saya lihat laporan cuaca di internet, suhu di luar -15° C, ramalan menyebutkan suhu akan naik menjadi -12° C pada waktu perkiraan jam keberangkatan penerbangan kami. Ada sedikit salju yang turun tapi cuaca sangat cerah. Setelah berjalan kaki kurang dari 5 menit kami sampai di terminal, suhu yang sangat rendah membuat telinga dan ujung-ujung jari saya mati rasa. Inilah saat-saat saya rindu akan Indonesia, rindu hujan derasnya yang kadang membuat banjir.

Akhirnya kami sampai di dalam terminal yang hangat. Setelah memberikan koper besar di check in counter, kami berjalan ke ruang tunggu di dalam didampingi oleh salah satu staf lokal yang bertugas memandu kami masuk melalui jalur staf bandar udara.

Saya masuk kokpit, penerbang lain yang terbang bersama saya masih berbicara dengan teknisi di pintu pesawat. Setelah kami berdua duduk di kokpit, dia memberitahu bahwa teknisi mengatakan kami butuh pemanas untuk melelehkan es yang menempel di bilah fan mesin turbin. Teknisi sudah memanggil teknisi lain yang bertugas membawa pemanas tersebut. Ini adalah pengalaman pertama saya mendapatkan pesawat yang bilah mesinnya terkontaminasi dengan es. Ada engine anti-ice yang bisa dinyalakan pada waktu mesin berputar, tapi cara kerja engine anti-ice ini hanya menghangatkan tepian bagian depan mesin untuk mencegah es menempel dan berakumulasi di sana.

Meskipun saya adalah PIC (pilot in command) pada penerbangan ini, tapi yang akan terbang sebagai pilot flying (PF) adalah penerbang yang lain, seorang kapten dari Amerika Serikat. Sebagai PNF (pilot non flying) saya harus melakukan walk around. Berjalan berkeliling memeriksa bagian luar pesawat. Wah, berarti sekali lagi saya harus keluar di cuaca dingin ini. Sebelumnya kami buka prosedur Cold Weather Operations, yang menerangkan  bagian-bagian dari pesawat yang harus diperiksa dengan ekstra teliti dan memastikan tidak ada es yang menyelubungi bagian tersebut. Sebelumnya kami menyalakan PROBE/WINDOW HEAT untuk memanaskan jendela kokpit dan sensor-sensor yang ada di luar pesawat. Berikut adalah bagian-bagian yang perlu diperiksa:

  • Seluruh bagian sayap, stabilizer, flaps, slats.
  • APU intake (saluran udara masuk ke APU).
  • Pack inlet (saluran udara masuk ke sistem AC).
  • Semua katup (valve) yang ada di airframe (bodi) pesawat.

Setelah memasang parking brake saya pergi keluar, tentunya dengan mengenakan fluorescent jacket, jaket kuning yang memiliki garis-garis yang berpendar dalam gelap dan juga mudah dilihat pada cuaca terang benderang. Ada 2 jaket yang ada di pesawat, yang satu sangat tipis dan tembus pandang, yang satunya sangat tebal untuk dikenakan pada cuaca dingin seperti ini.

Turun dari tangga garbarata (jetway/aerobridge, jembatan dari ruang tunggu ke pesawat), saya melangkah dengan hati-hati karena es sangat licin. Di bawah, saya periksa static ports, tidak tertutup es, lalu bagian roda pesawat, bagian bawah sayap dan mesin no 1 yang ada di sebelah kiri jika kita berdiri di belakang pesawat melihat ke arah depan pesawat. Sekilas tidak ada yang aneh dari bilah mesin turbofan ini tapi kalau diperhatikan ada garis putih seperti efek sinar dan bayangan di salah satu sisi setiap bilah fan.

Garis putih di ujung bilah fan adalah lapisan es yang menempel.Sekitar 20 menit sebelum keberangkatan, teknisi yang membawa pemanas sudah datang. Pemanas ini seperti mesin a/c, hanya saja tidak menghembuskan udara dingin tapi  menghembuskan udara hangat. Sayang saya tidak punya kesempatan untuk mengambil gambar alat yang digunakan untuk memanaskan bilah fan ini. Lima menit sebelum waktu keberangkatan, semua pintu sudah tertutup, saya mencoba memanggil teknisi yang ada di bawah pesawat untuk menanyakan apakah pesawat sudah siap untuk didorong mundur.  Teknisi menjawab lewat intercom bahwa masih banyak es yang menempel dan masih perlu kira-kira 10 sampai 15 menit lagi untuk melelehkan semua es tersebut.

Sekali lagi ini pelajaran baru bagi saya bahwa melelehkan es di ujung bilah fan memerlukan waktu yang relatif lama. Paling tidak kami sudah menghabiskan waktu 35 menit sejak mesin pemanas tersebut bekerja menghembuskan udara panas. Dengan pengalaman ini saya kembali membuka sebuah buku dari Airbus yang berjudul Getting To Grips With  Cold Weather Operations, dan ternyata ada beberapa catatan tentang hal ini yaitu pada waktu memeriksa mesin, semua salju atau frost harus dihilangkan dengan sapu atau sikat. Jika ada es yang menempel maka harus dilelehkan salah satunya dengan cara yang sudah kami lakukan pada hari ini.

disclaimer

Semua tulisan di site ini hanyalah untuk belajar dan meningkatkan ketrampilan personel penerbangan dan menambah wawasan masyarakat umum. Jika ada perbedaan dengan dokumen resmi dari otoritas yang berwenang dan pabrik pesawat, maka dokumen resmilah yang berlaku. Klik di judul disclaimer di atas untuk melihat keseluruhan aturan penggunaan ilmuterbang.com
Go to top