Anda disini:

Investigasi Reruntuhan/Serpihan Pesawat Karena Impact/Benturan

Rekonstruksi kecelakaan TU-154 di RusiaKali ini kita akan membahas sekelumit mengenai reruntuhan/serpihan akibat dari impact (benturan) baik benturan terhadap daratan maupun lautan. Bahasan ini tidak bermaksud menganalisa suatu kecelakaan pesawat tertentu tapi membahas teori secara umum karena setiap kecelakan pesawat yang terjadi saat terbang berbeda sebab dan akibatnya. Apabila di temukan lokasi kecelakaanpun hanya akan dijumpai sisa reruntuhan yang mungkin bagi awam akan tidak berguna. Tetapi bagi accident investigator ada beberapa bagian penting yang bisa membantu penyelidikan, dengan cara memprediksi dan merekonstruksi situasi saat kena impact.

Hal ini dikarenakan serpihan dan dinamika benturan dipengaruhi oleh kecepatan dan sudut benturan. Kecepatan pesawat pada umumnya menentukan parah atau hancurnya struktur pesawat. Sedangkan sudut benturan akan mempengaruhi kemana saja serpihan-serpihan itu akan terlempar.


Water Impact (Benturan Terhadap Air)
Apa yang terjadi pada saat pesawat membentur laut? Yang paling mempengaruhi adalah kecepatan pesawat atau kecepatan saat jatuh ke laut. Walaupun berupa benda cair, lautan adalah objek padat apabila pesawat berbenturan pada kecepatan yang tinggi. Akibatnya serpihan bisa hampir sama dengan ketika pesawat membentur tanah. Pada saat berbenturan dengan air, akan dipengaruhi juga oleh sudut benturan yang tergantung juga dari besar kecilnya ombak lautan. Jika lautan tenang tak berombak dan sudut benturan besar maka akan lebih parah serpihannya di bandingkan sudut benturan yang kecil. Sedangkan pada sudut benturan yang sama pada ombak yg kecil, ombak yang besar justru akan mengurangi besarnya benturan yang berakibat pada sedikitnya serpihan karena pesawat justru tendensi masuk ke dalam laut bersamaan dengan gejolak gelombang.

Selengkapnya...

CRM in practice

“Penulisan berikut ini tidak dapat menjabarkan CRM secara keseluruhan. Diharapkan dapat memperkenalkan dasar mengenai CRM.”

Saya menemukan materi pelatihan CRM yang tertulis dalam CASR ada di dalam part 121, 135, dan 141.

121.406 Crew Resource Management Training

(a) No air carrier shall assign a person to act as a crew member on any aircraft unless that person has received crew resource management training in accordance with the following: …

135.433 Crew Resource Management Training

No air carrier shall assign a person to act as a crewmember on any aircraft requiring two or more crewmembers, unless that person has received crew resource management training in accordance with the following: ...

Dilatarbelakangi oleh beberapa pengalaman saat bekerja dengan beberapa mitra terbang dalam Multi-Crew Cockpit, membuat penulis ingin membagikan pengalamannya yang mungkin dapat digunakan sebagai pembelajaran.

CRM (Crew Resource Management), adalah penggunaan semua sumber daya yang ada oleh awak pesawat, untuk mencapai misi penerbangan yang Aman dan Efisien, serta mengurangi tingkat kesalahan, mengurangi stres dan meningkatkan Efisiensi.

Bagaimana menghadapi seseorang dengan pengalaman terbang sudah sangat tinggi, lalu bekerja dengan seseorang dengan jam terbang rendah? Bagaimana interaksi dengan rekan kerja sesama seperti dengan kru darat? Dan juga dengan awak kabin? CRM dibuat untuk menjembatani hal tersebut, dengan tujuan untuk mencapai keselamatan penerbangan serta operasional yang efisien.

Selengkapnya...

Gajah dan si buta, mendarat darurat

Akhir-akhir ini saya makin tidak mengerti arah penerbangan Indonesia. Penerbangan adalah sebuah ilmu yang luas. Saya jadi ingat cerita gajah dan si buta. Tentang beberapa orang buta yang mempelajari bentuk gajah. Masing-masing ingin menerangkan bentuk gajah.

Saya sebagai penerbang mungkin seperti si buta nomor satu yang memegang telinga gajah dan dengan yakin mengatakan bahwa gajah itu lebar, bisa dikepakkan seperti sayap burung.  Seorang teknisi pesawat mungkin seperti si buta nomor dua yang memegang kaki gajah dan yakin bahwa gajah itu bundar, tegak dan kuat.  Seorang ATC mungkin akan seperti si buta nomor tiga yang memegang belalai gajah dan yakin bahwa gajah itu panjang, bebas bergerak dan fleksibel. 

Masalah timbul pada saat datang orang buta ke empat yang harus memelihara gajah padahal belum pernah menyentuh gajah. Atau mungkin hanya pernah menyentuh ekornya yang kecil dan berpendapat gajah bentuknya seperti cacing yang mudah diatur tapi bau karena dekat dengan lubang tempat keluarnya kotoran.

Masalah keempat orang buta tersebut walaupun matanya tidak bisa melihat hanya bisa diatasi jika mereka mempergunakan telinga dan mulutnya untuk berkomunikasi. Bayangkan kalau keempatnya hanya berbicara tanpa mendengar. Hanya keributan yang terjadi.

Jika keempat orang itu memakai mulutnya setelah telinganya apalagi setelah memakai hatinya, maka mereka akan hidup damai. Saling menasehati dan saling mendengarkan. Jangan jadi si buta yang sudah tidak bisa melihat malah juga menutup telinganya. 

Maaf, saya jadi sok tahu masalah gajah. Mari kita kembali ke penerbangan Indonesia dan pemberitaannya. Banyak sekali pemberitaan di media di Indonesia kalau ada pesawat yang mendarat darurat (emergency landing). Benarkah mereka mendarat darurat? Banyak keterbatasan dalam Bahasa Indonesia untuk menyampaikan berita di penerbangan. Penggunaan bahasa Indonesia dalam penerbangan pun kadang masih seperti orang buta yang mencari bentuk gajah. Beberapa istilah di bawah ini mungkin bisa dicarikan padanan katanya oleh para pakar bahasa. 

Selengkapnya...

disclaimer

Semua tulisan di site ini hanyalah untuk belajar dan meningkatkan ketrampilan personel penerbangan dan menambah wawasan masyarakat umum. Jika ada perbedaan dengan dokumen resmi dari otoritas yang berwenang dan pabrik pesawat, maka dokumen resmilah yang berlaku. Klik di judul disclaimer di atas untuk melihat keseluruhan aturan penggunaan ilmuterbang.com

Pengunjung

Kami memiliki 68 tamu dan tidak ada anggota online

Go to top