Perbedaan operator 91, 135 dan 121 dapat dibaca di artikel ini: Bedanya operator part 91, 135 dan 121

Operator part 135 mempunyai kebutuhan bahan bakar yang agak berbeda dengan operator part 91 atau 121. Sebelum memulai menghitung bahan bakar yang dibutuhkan, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan:

- angin dan faktor lain dari cuaca
- kemungkinan keterlambatan karena padatnya lalu lintas udara
- satu kali instrument approach dan kemungkinan missed approach di bandar udara/tempat tujuan.
- semua kondisi yang bisa menyebabkan keterlambatan dalam penerbangan.

Semua bahan bakar yang dihitung adalah berdasarkan usable fuel. Maksudnya jika tanki bahan bakar bisa diisi 500kg bahan bakar tapi hanya 450 kg yang bisa dipakai, maka 50 kg yang tidak bisa dipakai tidak boleh dimasukkan dalam perhitungan pemakaian bahan bakar.

 

Bahan bakar untuk Penerbangan VFR

Untuk penerbangan VFR bahan bakar yang dibutuhkan adalah sama dengan yang dibutuhkan oleh operator part 91.

Untuk terbang visual secara VFR, bahan bakar yang dibutuhkan adalah bahan bakar yang diperlukan untuk sampai ke tujuan dan ditambah dengan bahan bakar cadangan untuk terbang selama 30 menit dengan kecepatan jelajah normal. Untuk rotorcraft seperti helikopter,  tambahan reserve 20 menit sudah cukup.
Sebagai contoh sebuah pesawat (bukan helikopter) yang dioperasikan oleh operator part 135 akan terbang dari Jakarta ke Bandung secara VFR. Bahan bakar yang perlu dibawa adalah total bahan bakar untuk terbang ke Bandung ditambah 30 menit. Secara lengkap berikut ini adalah total bahan bakar yang dibutuhkan:
 
taxi + take off + climb + cruise + descent + 30 menit dengan kecepatan jelajah normall


Bahan bakar untuk Penerbangan IFR

Dalam sebuah penerbangan IFR oleh operator 135, harus ada sebuah bandar udara alternatif. 

Untuk penerbangan instrument dengan aturan IFR, maka bahan bakar yang dibutuhkan adalah bahan bakar untuk terbang ke tujuan, lalu melakukan go around dan terbang ke bandar udara alternatif yang sudah dipilih sebelumnya dan ditambah dengan bahan bakar cadangan untuk terbang selama 45 menit dengan kecepatan jelajah normal. Untuk rotorcraft seperti helikopter atau gyrocopter,  tambahan reserve 30 menit sudah cukup.

Contoh sebuah pesawat (bukan helikopter) yang dioperasikan oleh operator part 135 akan terbang dari Jakarta ke Surabaya secara IFR. Untuk terbang IFR harus ada bandar udara alternatif. Misalnya kita pilih bandar udara ngurah Rai di Denpasar sebagai bandar udara alternatif. 
 
Maka bahan bakar yang perlu dibawa adalah total bahan bakar untuk terbang ke Surabaya ditambah bahan bakar ke Denpasar ditambah 45 menit. Secara lengkap berikut ini adalah total bahan bakar yang dibutuhkan:

total bahan bakar= taxi + take off + climb + cruise + descent + approach + go around + climb + cruise ke alternate + descent + approach + 45 menit dengan kecepatan jelajah normal

---------------------------------------------

Bagaimana jika bandar udara Ngurah Rai ditutup, begitu pula cuaca di Solo dan Jogjakarta tidak bagus? Berarti tidak ada bandar udara alternatif yang dekat dengan Surabaya.  

Dalam hal ini keharusan adanya bandar udara alternatif bisa dihilangkan jika:
1. ramalan cuaca di bandar udara tujuan satu jam sebelum dan sesudah perkiraan waktu tiba, sama atau lebih baik dari:

  • a. Ceiling = 2000 kaki
  • b. Visibility= 5 mil (bukan nautical mile)

2. Pesawat membawa bahan bakar tambahan untuk 2 jam dengan kecepatan jelajah normal (135.639(b)).

Jadi kita bisa buat perencanaan terbang dengan terbang IFR tanpa alternatif dengan syarat cuaca di Surabaya visibility = 5 mil atau sekitar 8000m atau lebih dan ceiling 2000 kaki atau lebih. Bahan bakar yang dibutuhkan adalah bahan bakar untuk ke Surabaya ditambah bahan bakar untuk terbang 2 jam.

 

135.623 Alternate Airport Criteria

(a) No person may dispatch an aeroplane under IFR unless he lists at least one alternate airport for each destination airport in the operational flight plan. When the weather conditions forecast for the destination and first alternate airport are marginal, at least one additional alternate must be designated. However, no alternate airport is required if for at least 1 hour before and 1 hour after the estimated time of arrival at the destination airport the appropriate weather reports or forecasts, or any combination of them, indicate;

  • (1) The ceiling will be at least 2,000 feet above the airport elevation; and
  • (2) Visibility will be at least 5 statute miles, and 
  • (3) the aircraft will have sufficient fuel to meet the requirements of Section 135.639(b). 

135.637 Minimum Fuel Requirements for Day VFR Flight

Except as may be required by the Director no aircraft shall be released for flight and no pilot shall operate an aircraft under this Subpart unless the fuel on board the aircraft meets the requirements of CASR 91.151.

135.639 Minimum Fuel Requirements for IFR Flight

(a) No person may release a flight and no person shall conduct a take-off in any aircraft within Indonesia unless it has sufficient fuel to fly to the destination airport, thereafter to fly to the flight planned alternate airport, and thereafter to fly for 45 minutes at normal cruising fuel consumption. In the case of helicopter the required reserve fuel is 30 minutes at normal cruise.
(b) No person may release an aeroplane to an airport for which an alternate is not specified under 135.623(a) unless it has enough fuel, considering wind and other weather conditions expected, to fly to that airport and thereafter to fly for at least two hours at normal cruising fuel consumption.

Sumber : CASR part 135. amdt 7

disclaimer

Semua tulisan di site ini hanyalah untuk belajar dan meningkatkan ketrampilan personel penerbangan dan menambah wawasan masyarakat umum. Jika ada perbedaan dengan dokumen resmi dari otoritas yang berwenang dan pabrik pesawat, maka dokumen resmilah yang berlaku. Klik di judul disclaimer di atas untuk melihat keseluruhan aturan penggunaan ilmuterbang.com
Go to top