Pada bulan Mei  tahun 1996, 10 menit setelah lepas landas, sebuah DC9 Valujet mengalami kebakaran di kompartemen kargo kelas D. Kompartemen kargo kelas ini tidak memiliki detektor asap/api dan tidak memiliki pemadam api. 110 orang tewas....

Membahas tentang perlindungan terhadap kebakaran ternyata membutuhkan pengetahuan tentang api itu sendiri. Sumber api bisa bermacam-macam.  Cara pemadamannya pun berbeda-beda.

Beberapa otoritas keselamatan baik penerbangan atau selain penerbangan, membagi sumber api dalam kelas-kelas. Perhatikan bahwa pembagian ini mungkin agak berbeda, jadi mohon berhati-hati untuk melihat huruf kode kelas sumber api. Jadi jangan menganggap orang lain salah kalau kode yang dipakai berbeda karena mungkin sumbernya berbeda. Yang banyak dipakai adalah kode dari Amerika dan Eropa.

Kode yang dipakai di Amerika

  • Kelas A: Api bersumber dari bahan padat terutama bahan alami seperti kertas, kayu, plastik, tekstil.
  • Kelas B: Api bersumber dari bahan cair dan gas yang mudah terbakar, contohnya: bensin, oli, alkohol, cat, LPG, LNG, butanol, propanol .
  • Kelas C: Electrical fire, sumber api dari listrik.
  • Kelas D: Api bersumber dari bahan logam seperti Potasium, Kalium.
  • Kelas K: Api bersumber dari minyak goreng (cooking oil).

Perhatikan kelas sumber api yang bisa dipadamkan oleh pemadam ini

Kode yang dipakai di Eropa.

  • Kelas A: Api bersumber dari bahan padat terutama bahan alami seperti kertas, kayu, plastik, tekstil.
  • Kelas B: Api bersumber dari bahan padat dan cair yang mudah terbakar, contohnya: bensin, oli, alkohol, cat, lilin.
  • Kelas C: Api bersumber dari bahan gas, contohnya: LPG, LNG, butanol, propanol.
  • Kelas D: Api bersumber dari bahan logam seperti Potasium, Kalium.
  • Electrical fire: Bukan kelas E di Eropa tapi disebut kelas E di Australia, sumber api dari listrik.
  • Kelas F: Api bersumber dari minyak goreng.

Dari sumber api ini bisa ditentukan bahan pemadam apa yang tepat. Di botol pemadam api biasanya ada huruf kode yang perlu diperhatikan untuk memadamkan api dengan tepat.

Pemadaman kebakaran dilakukan dengan memutuskan oksigen dan pemicu api. Api karena kelistrikan (korslet) harus dipadamkan dengan memutuskan aliran listrik terlebih dahulu. 

Pada artikel sebelumnya kita sudah membahas sedikit tentang perlindungan terhadap api di kokpit dan kabin. Kali ini kita akan membahas perlindungan api di kompartemen kargo.

 

Kompartemen kelas A. Sumber: wikimedia: Cargo_loaded_ aboard_a_Twin_Otter.jpg

Klasifikasi kompartemen kargo/bagasi

Ada beberapa jenis kompartemen kargo/bagasi di pesawat yang dibedakan dengan fasilitas fire protectionnya. Pembagiannya dibedakan dengan kelas-kelas yang berupa huruf A, B, C, D, E.

Perhatikan bahwa huruf kelas ini ini tidak ada hubungannya dengan kode pemadaman api yang sudah kita bahas di atas. Di peraturan keselamatan penerbangan Indonesia, klasifikasi ini bisa anda temukan di CASR part 25.857 Cargo compartment classification.

Kelas A

Sebuah Class A cargo compartment, adalah tempat kargo atau bagasi yang jika ada kebakaran mudah dideteksi oleh awak pesawat dari kursi di kokpit dan kompartemen ini mudah diakses oleh awak pesawat waktu terbang.

Kompartemen kelas B di B747 CombiKelas B

Seperti kelas A, kelas B ini harus mudah dicapai oleh awak pesawat dengan membawa sebuah hand fire extinguisher. Sewaktu awak menggunakan akses ke dalam kompartemen kargo, tidak boleh ada asap/api/bahan pemadam  yang bisa masuk ke kompartemen yang dihuni oleh awak ataupun penumpang. 

Di kompartemen kargo kelas B juga harus ada detektor asap atau api. Keharusan ini tidak dijumpai di kelas A. Beberapa pesawat kombi (gabungan penumpang dan freighter) seperti B747 combi memiliki kompartemen kelas B. Gambar di bawah adalah lay out pesawat B747 combi yang gambarnya di ambil dari laporan kecelakaan, South African Airways (SAA) Flight 295, Boeing Model 747-200 kombi yang jatuh di laut karena terjadi kebakaran di kompartemen kargonya. Pesawat kombi (combi) adalah pesawat yang punya kompartemen kargo dan penumpang di lantai yang sama.

 

Indikasi asap di kokpit untuk kompartemen kelas CKelas C

Kalau syarat kelas A dan B tidak bisa dipenuhi, maka kompartemen tersebut disebut kelas C jika ada:

  • Alat deteksi asap/api yang bisa memberi indikasi pada penerbang atau flight engineer.
  • Alat pemadam api built-in yang bisa dikendalikan dari kokpit oleh penerbang/flight engineer.
  • Harus ada penyekat yang menghalangi asap/api /bahan pemadam masuk kompartemen awak dan penumpang.
  • Harus ada juga alat pengatur ventilasi.

Kompartemen kargo yang berada di bagian bawah pesawat biasanya disertifikasi sebagai class C compartment.

Memuat kargo di kompartemen kelas C

Kelas D

Kompartemen kelas D tidak dilengkapi dengan detektor asap/api dan juga tidak dilengkapi dengan pemadam api. Syarat Kompartemen kelas D ini:

  • Memiliki batasan isi 1000 cubic feet.
  • Kompartemen ini harus memiliki ventilasi yang bisa dikendalikan agar api tidak bisa keluar dari kompartemen.
  • Harus ada cara untuk mengeluarkan asap  dari kompartemen penumpang dan awak pesawat.

Karena tidak ada detektor dan pemadam, api harus mati dengan cepat. Caranya, ukuran dan segel/seal dari kompartemen cukup untuk menghabiskan udara (oxygen starvation) yang ada dalam kompartemen dan dengan otomatis api akan mati karena kekurangan udara/oksigen. Artinya barang yang terbakar akan menghabiskan oksigen di kompartemen tersebut dan kompartemen yang kecil dan rapat itu tidak akan kemasukan oksigen dari luar sehingga api akan mati.

Lalu kenapa kompartemen kargo kelas D pesawat DC9 Valujet nomor penerbangan 592 yang ditulis di paragraf pertama di atas tetap terbakar seolah oksigennya tidak habis terbakar?

Ternyata kompartemen kargo penerbangan pesawat tersebut membawa  suku cadang pesawat yaitu oxygen generator. Oxygen generator ini menjadi pemicu kebakaran tambahan yang memperpanjang kebakaran di kompartemen kargo di penerbangan tersebut.

DC 9 Forward cargo compartment

Untuk menghindari kecelakaan serupa, sejak tahun 2001, di USA semua kompartemen kargo kelas D harus dilengkapi dengan detektor dan atau alat pemadam api, sehingga menjadi kelas C atau kelas E. Bahkan klasifikasi kelas D pun sudah dihapus dari US FAR 25.857 Cargo Compartment Classification. 

Kelas E

Kompartemen kargo kelas E adalah kompartemen kargo dari pesawat freighter atau pesawat kargo tanpa penumpang. Syaratnya antara lain:

  • Alat deteksi asap/api yang bisa memberi indikasi pada penerbang atau flight engineer.
  • Pengatur ventilasi yang bisa dikendalikan dari kokpit oleh penerbang/flight engineer.
  • Harus ada penyekat yang menghalangi asap/api /bahan pemadam masuk kompartemen awak pesawat.
  • Pintu darurat yang bisa dicapai dalam kondisi apapun.

Kompartemen kargo kelas E

Semua syarat di atas adalah terjemahan dan penggambaran sederhana dari klasifikasi kompartemen kargo. Syarat lengkapnya harus dibaca di CASR part 25.

 

Sumber:

disclaimer

Semua tulisan di site ini hanyalah untuk belajar dan meningkatkan ketrampilan personel penerbangan dan menambah wawasan masyarakat umum. Jika ada perbedaan dengan dokumen resmi dari otoritas yang berwenang dan pabrik pesawat, maka dokumen resmilah yang berlaku. Klik di judul disclaimer di atas untuk melihat keseluruhan aturan penggunaan ilmuterbang.com
Go to top