Pengetahuan umum penerbangan : Artikel - Teori Penerbangan - Pengetahuan umum penerbangan Menjadi Pilot : Teknik Penerbangan : Artikel -Teknologi Penerbangan - Teknik Penerbangan |
| Jangan jadi pilot Megalomaniak |
| Ditulis oleh Fadjar Nugroho | |||
| Sabtu, 09 Januari 2010 18:42 | |||
|
Di dua kesempatan yang berbeda saya sedang membuka account facebook saya. Sebagai penerbang tentunya teman-teman di facebook saya adalah juga orang-orang yang berkecimpung di dunia penerbangan, termasuk sesama penerbang dan staff yang lain. Pada kedua hari yang berbeda itu saya menemukan sesuatu yang menarik dari halaman home facebook saya. Status dari 2 orang teman saya di tag pada 2 buah video yang berbeda. Kedua video tersebut mempunyai setting bisa dilihat oleh temannya teman (friends of friend) sehingga saya yang tidak kenal dengan pembuat video tersebut dapat melihat video yang bersangkutan. Sayang, fitur keamanan facebook tidak memperkenankan saya menyimpan video tersebut di harddisk saya. Apa yang istimewa dari kedua video tersebut? Video yang pertama memperlihatkan sebuah pesawat komersial milik badan usaha pemerintah Indonesia yang dioperasikan dengan tidak normal. Pesawat tersebut adalah sebuah pesawat turboprop yang sedang dijalankan mundur hanya dengan menggunakan reverse thrust yang sejauh pengetahuan penulis adalah hal yang tidak diperbolehkan. Sedangkan video kedua yang disaksikan oleh penulis adalah sebuah pesawat serbaguna milik sebuah institusi pemerintah nonkomersial yang diterbangkan secara aerobatic sederhana (45° Lazy Eight) di ketinggian yang cukup rendah. Cukup rendah untuk mendapatkan gambar yang jelas dengan menggunakan sebuah kamera handphone sederhana. Konon dari status facebook si penerbang tersebut, beliau sedang uring-uringan karena suatu hal yang tidak dijelaskan. Manuver aerobatik yang dilakukan mungkin tidak membahayakan pesawat tersebut karena masih dalam batasan limitasi kekuatan pesawat, tapi melakukannya di ketinggian yang cukup rendah adalah sebuah pelanggaran peraturan penerbangan yang membahayakan orang di bawahnya dan resiko menabrak bangunan yang ada. Apapun alasannya, kedua penerbang tersebut tidak mampu melawan musuh terbesar dalam profesi penerbang: DIRI SENDIRI!. Megalomania syndromeMegalomania syndrome adalah karangan penulis sendiri yang diilhami dari kejadian berikut berdasarkan sebuah laporan kecelakaan dari US NTSB yang mengakibatkan kematian 3 orang, instruktur penerbang, siswa dan seorang penumpang. Pelajaran moral yang didapat tidak hanya penting bagi penerbang tapi juga untuk semua profesi selain penerbang karena kecelakaan ini unik bukan karena masalah teknis, cuaca atau human error. Perhatikan karakter instruktur penerbang dalam kecelakaan ini yang sangat percaya diri bahwa dia tahu sesuatu yang tidak diketahui orang lain dan senang pamer melakukan hal yang tidak biasa. Pada tanggal 15 November 2007, sebuah pesawat bermesin tunggal Piper PA-28R-200 dengan registrasi N55307 hancur berantakan di udara dekat kota Ranger di Texas, USA. Tiga orang terdiri dari seorang instruktur penerbang, seorang pemegang PPL dari negara lain dan seorang penumpang yang juga adalah siswa penerbang, meninggal dengan keadaan terluka parah. Pesawat itu sedang melakukan cross-country sejauh 132 nautical mile. Cuaca dalam keadaan VFR. Tidak ada yang melihat kejadian tersebut, tapi dua orang saksi melaporkan mendengar hancurnya pesawat dan jatuhnya puing-puing pesawat. Seorang saksi yang berdiri di atas mobil truknya sekitar 2 mil dari kejadian mendengar 3 kali bunyi mesin yang “stall” kemudian sunyi setelah 3 kali bunyi tersebut lalu diikuti bunyi keempat yang “aneh”. Karena bunyi tersebut, maka dia mengeluarkan binoculars (keker/teropong, untuk melihat jauh) dan melihat pesawat oleng, berputar dengan bunyi dengungan dan diikuti dengan dentuman keras. Pada waktu dia keluar dari tempatnya, dia melihat pesawat jatuh dalam kepingan. Sebagai informasi, di USA jika terbang VFR tidak perlu minta clearance dan tidak harus melaporkan posisi pada ATC kecuali penerbang yang bersangkutan meminta radar service. Jadi penerbang bisa bermanuver semaunya kecuali jika ada traffic lain yang dekat dengannya, maka ATC akan memberi separation atau traffic information.
Informasi personelInstruktur penerbang ini mempunyai sertifikat instruktur dengan rating single-engine land, multi-engine land dan instrument rating. Kesehatannya cukup bagus, dibuktikan dengan sertifikat kesehatan kelas satu tanpa ada batasan/limitasi. Dia mendapatkan lisensi PPL ada tanggal 22 Januari 2004 dengan 56 jam terbang. Kemudian setelah 3 tahun, dia memulai karirnya sebagai instruktur, dimulai dengan lisensi sementara untuk single engine land, multi engine land dan instrument rating pada tanggal 18 Juli 2007 dan mendapatkan sertifikat instruktur 2 hari kemudian pada tanggal 20 Juli 2007. Total jam yang didapat adalah 595 jam terbang dengan 37 jam di pesawat yang naas itu. Sedangkan siswa penerbangnya mempunyai 119 jam terbang dengan hanya 1 jam di pesawat tersebut. Informasi pesawatPesawat naas tersebut adalah sebuah Piper PA-28R-200 buatan tahun 1973 200 hp, dengan retractable landing gear dan mesin 4 silinder. Maksimum kecepatan manuver (max maneuvering speed) adalah 116 knots, maximum structural cruising speed atau kecepatan yang bisa ditahan oleh kekuatan strukturnya adalah 148 knots. Berdasarkan laporan logbook pesawat, inspeksi tahunan sudah dijalankan pada tanggal 1 Oktober 2007. Pemeriksaan dilakukan untuk mesin dan airframe (badan) pesawat. Keadaan cuacaCuaca pada saat itu dilaporkan tidak berawan, angin 8 knots dari arah 350°, suhu 61°F dan tekanan udara 30.40 Inch Hg. Informasi reruntuhan pesawatReruntuhan pesawat tersebar sejauh 1 mil/ 1,6 km dan pesawat terpotong menjadi 6 bagian utama. Temuan dari bagian aileron yang lepas dari sayap pesawat menunjukkan kegagalan struktur karena overload. Begitu juga dengan patahan-patahan lain yang ditemukan. Dari penyelidikan tidak ditemukan kerusakan karena keretakan yang terjadi sebelumnya. Wawancara dengan orang sekitarKarena informasi yang sangat terbatas, NTSB melakukan wawancara dengan beberapa orang yang kenal dengan instruktur ini. Selanjutnya kita sebut saja Mr. R. Interview pertama adalah dengan seorang instruktur wanita yang pernah terbang dengan Mr. R. Instruktur ini mengatakan bahwa kemampuan Mr. R cukup baik dan aman, dan dia tahu bahwa Mr. R senang melakukan spin dengan siswanya. Instruktur wanita ini merasa hal tersebut tidak perlu karena memang tidak dibutuhkan di jenjang latihan untuk siswa-siswa penerbang. Siswa yang duduk sebagai penumpang di kursi belakang adalah murid dari instruktur wanita ini yang berasal dari Italia. Karena bahasa Inggris bukanlah bahasa utama dari siswa ini dan dia masih punya masalah dengan komunikasi maka instruktur wanita ini menyarankan siswanya itu untuk ikut penerbangan naas tersebut untuk menjadi observer, mengamati dan belajar komunikasi radio. Sebelum kecelakaan, instruktur wanita ini dan Mr. R makan siang bersama, dan meminta Mr. R untuk tidak melakukan “funny stuff” dengan siswanya di dalam pesawat. Dia tidak mau siswanya belajar “kebiasaan jelek” karena dia mendengar bahwa Mr. R sebelumnya telah melakukan manuver aerobatik “barrel roll” di salah satu pesawat milik sekolah tersebut. Interview kedua adalah dengan instruktur lain di sekolah tersebut yang mengatakan bahwa Mr. R adalah salah satu penerbang terbaik yang pernah terbang dengannya. Dia ingat Mr. R pernah bercerita melakukan “snap roll” di dua pesawat milik sekolah. Dia menyatakan kekhawatirannya pada Mr. R tentang kebiasaannya melakukan aerobatik di pesawat dan tidak pernah lagi mendengar cerita yang sama dan beranggapan Mr. R sudah menghentikan kebiasaannya. Waktu penyelidik menanyakan bagaimana manuver ini dilakukan, dia menerangkan: pesawat di turunkan sampai kecepatan 140 knots (perhatikan maximum maneuvering speed adalah 116 knots) kemudian pesawat dinaikkan kembali sekitar 10-15° di atas horison kemudian pesawat dibelokkan dengan menggunakan rudder dan aileron. Dari wawancara kedua ini, diketahui penerbangan naas tersebut dilakukan hanya untuk menambah jam terbang penerbang yang satunya, bukan untuk melakukan manuver yang aneh-aneh. Wawancara ketiga dilakukan dengan salah satu siswa sekolah penerbang ini. Siswa ini bercerita bahwa Mr. R satu dua kali memamerkan manuver “barrel roll” dan “spins” di pesawat Cessna 172 SP. Penjelasannya sama dengan instruktur kedua di atas, pesawat ditukikkan sampai mencapai 140 knots dan dinaikkan kembali sambil berbelok. Menurut siswa ini, manuver dilakukan dengan "sangat halus" dan "tidak kasar/merusak". Akhirnya penyelidik menerima 2 buah email yang dikirimkan oleh siswa yang duduk di kursi belakang ke temannya yang ada di Italia. Sebagian isinya kira-kira sebagai berikut: “.... Kemarin saya terbang dengan seorang instruktur megalomaniak..... saya mendengarkan komunikasi radio dalam penerbangan dan mereka sangat hebat... sayang ada 2 ATC, yang satunya kalau bicara seperti orang sekarat dan yang satunya lagi ngomongnya seperti pakai kode.... ..ngomong-ngomong tentang instruktur megalomaniak, … kemarin waktu terbang dia mengambil alih kemudi kemudian melakukan 2 kali belokan spin... tanpa peringatan... Saya seperti terlempar keluar dari pesawat karena saya tidak mengikat erat sabuk pengaman... kami sebenarnya tidak melakukan aerobatik... tapi seru juga sih... ” KesimpulanInstruktur megalomaniak ini tidak hanya menghancurkan dirinya sendiri tapi juga mengakibatkan kematian dua orang yang lain. Bahkan kita tidak pernah tahu jika salah satu pesawat yang pernah dibawa terbang di luar batas akan juga mengalami kecelakaan atau insiden di masa depan, karena strukturnya yang sudah dirusak dengan manuver-manuver terlarang tersebut. Dalam dunia penerbangan sebenarnya banyak sifat "norak" ini yang dilakukan oleh penerbang baik di Indonesia maupun di luar negeri. Bahkan sejak saat masih berada di sekolah penerbangan. Semuanya dilakukan hanya untuk pamer. Bukan rahasia lagi di antara siswa penerbang di Indonesia untuk melakukan manuver "nyamber"/terbang sangat rendah dan "cuci roda", terbang rendah di atas danau atau laut sampai roda pesawat menyentuh air. Semuanya bisa dilakukan di non-radar environment. Sedangkan di dunia profesional pada waktu penulis bekerja di sebuah perusahaan penerbangan swasta yang sudah bangkrut, seorang kapten B737, terkenal di antara para ko pilot selalu terbang di Vmo atau Mmo (Kecepatan Maksimum pesawat) sampai bunyi "clacker" peringatan overspeed berbunyi. Mungkin yang bersangkutan tidak lagi mengulangi perbuatannya, tapi akibatnya pada pesawat tidak pernah kita ketahui. Kita juga tidak pernah tahu jika sebuah kecelakaan di masa depan sebenarnya adalah akibat perbuatan penerbang-penerbang di cerita di atas yang mengurangi kekuatan pesawat dengan manuver overlimit hanya karena percaya diri yang berlebihan dan sifat pamer. Wallahuallam bisawwab, naudzubillah min Dzalik. Hanya Tuhan yang tahu. Pengingat untuk penerbang:Dalam penelitian tentang Human Factor disimpulkan 5 sifat yang paling berbahaya dalam penerbangan dan menyebabkan kecelakaan. Kecelakaan di atas hanya disebabkan satu atau dua dari sifat di bawah ini yaitu Macho dan Invulnerability.
Sedangkan dalam kehidupan sehari-hari ada beberapa hal yang bisa diingat untuk menghindari melakukan sifat yang berbahaya ini.
Semoga artikel ini berguna bagi kita semua sebagai pengingat. RujukanCASR part 91.303 Aerobatic Flight No person may operate an aircraft in aerobatic flight
CASR part 91.13 Careless Or Reckless Operation No person shall operate an aircraft for the purpose of air navigation or for operations on any part of an airport (including areas used by those aircraft for receiving or discharging persons or cargo), in a reckless or reckless manner so as to endanger or be likely to endanger the life or property of any person. NTSB factual report, no id: DFW08FA031. Masukkan no ID di kolom NTSB Status - Accident number, untuk download laporan lengkap dari NTSB di website di bawah:http://www.ntsb.gov/ntsb/query.asp
|
|||
| Terakhir Diperbaharui Minggu, 01 Juli 2012 17:08 |