Untuk dapat terbang, sebuah helikopter menghasilkan gaya angkat dari putaran rotor bladenya. Putaran rotor ini juga menghasilkan rotor downwash. Rotor downwash adalah perubahan arah aliran udara sebagai akibat aksi aerodinamik rotor. Gambar di bawah sebagai contoh, menunjukkan arah dan besarnya downwash pada helikopter EH101/AW101 ketika sedang hover di atas permukaan keras.

Dari gambar di atas terlihat bahwa aliran udara keluar rotor (downwash) dihembus ke bawah kemudian menyebar ke segala arah (pada kondisi tidak ada angin). Pada gambar velocity magnitude, juga dapat terlihat ternyata ada aliran udara yang tersirkulasi dan berputar tepat di bawah helikopter. Downwash akan berbanding lurus dengan besarnya lift, maka semakin besar dan berat helikopter, maka downwashnya akan semakin besar juga. Apakah downwash ini dapat menimbulkan potensi bahaya? Tentu saja.

Kalau kita kembali lagi ke gambar yang menunjukkan velocity magnitude (besarnya kecepatan udara aliran), kecepatan aliran udara maksimum yang bisa dihasilkan helikopter AW101 ini bisa sampai 100ft/s , 68km/jam atau hampir 60knots. Kecepatan udara sebesar ini bisa mematahkan ranting pohon, bahkan pada beberapa kasus ekstrim, downwash dari helikopter besar yang sedang hover taxi di sebuah bandara, bisa membalikkan sebuah pesawat kecil yang sedang diparkir dengan mudah.

Downwash yang paling besar timbul ketika sebuah helikopter sedang hovering atau melakukan slow hover taxi. Hal ini akan berpotensi menimbulkan bahaya khususnya pada operasi di airport. Untuk mengurangi potensi bahaya rotor downwash pada helikopter yang banyak beroperasi di airport, perancang memasang landing gear bertipe roda supaya helikopter dapat melakukan roll surface taxi bukan hover taxi, roll surface taxi menghasilkan jauh lebih sedikit downwash, inilah sebabnya kita jarang melihat helikopter besar menggunakan landing gear tipe skid, karena landing gear tipe skid tidak bisa melakukan surface taxi (sebetulnya bisa saja namun dapat merusak permukaan taxiway, apron, runway, dsb). Alasan lain digunakan landing gear tipe wheel selain untuk mengurangi downwash juga untuk kemudahan towing (ditarik) , mengurangi drag ketika terbang, dan untuk kenyamanan ketika landing.

Pada operasi di airport, helikopter kecil melakukan hover taxi, sedangkan helikopter besar melakukan roll surface taxi.

Perbedaan landing gear tipe skid, dan tipe wheeled. Sebagai contoh helikopter Bell 429 ini dapat menggunakan landing gear tipe skid atau wheeled, tergantung permintaan dan kebutuhan dari pembeli.

Untuk mengurangi potensi bahaya dari rotor downwash, disarankan untuk menghindari operasi kerja atau apapun (yang dapat terganggu karena angin kencang) pada daerah berbentuk lingkaran dengan jari-jari sebesar 3 kali ukuran diameter main rotor helikopter. Terutama pada saat helikopter sedang melakukan slow hover taxi atau stationary hover.

 

 

Brown-out

Brown-out adalah sebuah fenomena yang cukup berbahaya yang timbul ketika sebuah helikopter melakukan approach atau landing ke daerah yang berdebu/berpasir misalnya di padang pasir atau di pantai. Penyebabnya adalah partikel debu atau pasir terangkat dari permukaan karena rotor downwash sehingga menghalangi pandangan penerbang. Jika kita kembali pada contoh gambar aliran udara keluar rotor pada bagian awal artikel ini, terlihat bahwa aliran udara di bawah helikopter akan cenderung berputar, ketika terjadi brown-out, partikel debu/pasir juga dapat ikut berputar di bawah helikopter sehingga sulit sekali keluar dari kondisi brown-out.

White-out
White-out serupa dengan brown-out, perbedaannya jika pada brown-out partikel yang tertiup rotor downwash berupa pasir/debu, sedangkan pada white-out partikelnya adalah salju atau butiran halus es. Biasanya terjadi pada operasi helikopter di daerah bersalju atau pada musim dingin.

 

Baik brown-out ataupun white-out dapat berbahaya bagi penerbang, karena penerbang tidak bisa melihat objek-objek di luar helikopter sebagai referensi visual. Sebagian penerbang yang pernah mengalami brown-out/white-out bahkan menyatakan jika fenomena ini dapat dibandingkan seperti memarkirkan mobil dengan posisi paralel sambil memejamkan mata.

Penerbang tidak akan bisa melihat dengan jelas apakah permukaan di bawah helikopter untuk mendarat cukup datar atau tidak, apakah ada benda-benda di atas tanah yang dapat membuat helikopter terguling, dan juga kondisi sekitar helikopter apakah cukup menyisakan jarak antara main rotor/tail rotor dengan pohon, bangunan, tiang listrik, dsb.

Selain tidak bisa melihat kondisi di luar, debu/salju yang menyelimuti helikopter juga dapat memberikan ilusi sensorik bagi penerbang. Pada beberapa helikopter VFR yang tidak memiliki Artificial Horizon hal ini cukup berbahaya karena penerbang dapat mengalami ilusi false horizon, jadi penerbang salah menganggap gumpalan debu/salju yang tertiup sebagai horizon (cakrawala) dan digunakan sebagai referensi helikopter untuk melakukan hover. Penerbang dapat memberikan input yang salah ke helikopter dan kecelakaan dapat terjadi. Bagaimana cara menghindari brown-out/white-out?

Jika dapat memilih maka seorang penerbang haruslah memilih tempat mendarat yang tidak berpotensi untuk terjadinya brown-out/white-out, namun bagaimana bila memang helikopter diperlukan untuk mendarat di sana? Berikut ini beberapa langkah yang bisa berguna :

  • Lakukan low approach ke lokasi landing untuk melihat kondisi lokasi landing beserta semua benda yang berpotensi menimbulkan bahaya bagi helikopter.
  • Lakukan approach dengan profile selandai/shallow sampai senormal mungkin jika memungkinkan, hindari steep approach jika bisa.
  • Jika landing area berupa runway tanah/pasir/salju, disarankan melakukan running landing (landing seperti fixed wing) untuk mengurangi efek brown-out/white-out.
  • Tidak melakukan flare yang berlebihan di akhir approach.
  • Jika sudah terlanjur masuk pada kondisi brown-out/white-out , gunakan instrument pada cockpit sebagai referensi melakukan hover, turunkan helikopter perlahan dengan tetap melihat ke instrument, jika ada radar altimeter, gunakan sebagai hitung mundur ke touch down.

Di bawah ini juga bahaya lain dari rotor downwash.

sumber: http://s636.photobucket.com/user/Lightning_29/media/Helicopter-blows-skirt-up-1.jpg.html

disclaimer

Semua tulisan di site ini hanyalah untuk belajar dan meningkatkan ketrampilan personel penerbangan dan menambah wawasan masyarakat umum. Jika ada perbedaan dengan dokumen resmi dari otoritas yang berwenang dan pabrik pesawat, maka dokumen resmilah yang berlaku. Klik di judul disclaimer di atas untuk melihat keseluruhan aturan penggunaan ilmuterbang.com
Go to top