Pengetahuan umum penerbangan : Artikel - Teori Penerbangan - Pengetahuan umum penerbangan Menjadi Pilot : Teknik Penerbangan : Artikel -Teknologi Penerbangan - Teknik Penerbangan |
| Diuntungkan dalam negosiasi 5th Freedom kok malah ngomel? |
| Ditulis oleh Gerry Soejatman | |||
| Rabu, 30 November 2011 06:09 | |||
Belum lama ini saya baca sebuah artikel dari pengamat politik dan penerbangan yang cukup dihormati. Namun, saya merasa sedikit aneh... kenapa setiap ada topik mengenai Indonesia vs Malaysia, selalu ada saja yang ngomporin? (admin: memanas-manasi).OK, sebelum kita mulai, 5th Freedom Right itu apa sih?
Dalam perundingan bilateral antara Indonesia dan Malaysia yang sedang berjalan, masing-masing negara setuju untuk membuka 3 bandara untuk melakukan 5th freedom rights, di mana:
Kelihatannya sih, kita yang dapet banyak untung dari perundingan kali ini. Kita kasih 7 kali pulang pergi, dan mandapatkan 85 kali pulang pergi! Lha, lantas, kenapa kok masih pada mengeluh?
Keluhan mereka: "Oh, mereka dapet bandara-bandara sibuk seperti Makassar dan Bali, dan selain Kuala Lumpur, kita hanya mendapat bandara-bandara sepi seperti Kuching dan Kinabalu". "Kita harus dapet Penang baru bisa adil!". "Kita harus dapat Penang, dan kasih mereka bandara-bandara yang benar-benar terpencil, nah itu baru adil!"
SEBENTAR!!!!!!
Ada yang sadar tidak, bahwa kali in tidak ada yang mendapatkan pasar kedua paling besar di negara lainnya? Mereka tidak mendapatkan Surabaya, dan kita tidak mendapatkan Penang.
Statistik untuk 2010:
Tentu, CGK + DPS + UPG lebih besar dari KUL + KCH + BKI, tetapi mana yang lebih menjanjikan? Ingat, 5th Freedom Malaysia terbatas ke Australia, tapi Indonesia mendapatkan 5th Freedom ke ke Asia, Timur Tengah, Eropa dan Amerika Serikat.
Banyak dari kaum nasionalisme-buta juga lupa bahwa Indonesia sudah biasa memberikan 5th Freedom Rights ke Australia, dan Malaysia menginginkan penumpang transit/transfer untuk melewati bandara-bandara mereka dan dengan mudah mereka memberikan 5th Freedom Rights untuk itu.
Mereka juga lupa atau sengaja melupakan, bahwa pemberian 5th Freedom Rights 7x seminggu ke maskapai Malaysia atau negara ASEAN lainnya, bukanlah hal yang baru!
Mereka juga lupa bahwa Indonesia juga memberikan 5th Freedom Rights untuk maskapai Australia dari Indonesia ke kota-kota di ASEAN.
Sekarang, bagaimana operator Indonesia bisa mengambil untung dari perjanjian bilateral yang baru nanti? Garuda bisa saja terbang ke Eropa melalui Kuala Lumpur, atau mungkin membuka rute ke Indian melalui Kuala Lumpur yang pasar India-Malaysia nya lebih besar dari pasar Indonesia-India.
Saya berharap mereka yang kemakan nasionalisme buta berhenti melakukan pembodohan masyarakat, dan saya berharap para pengamat-pengamat dan analis-analis yang terkenal (di mana salah satu dari mereka menulis sebuah artikel yang membuat saya menulis dumelan ini), untuk lebih objektif!
sumber: http://gerryairlines.blogspot.com/2011/11/diuntungkan-dalam-negosiasi-5th-freedom.html
|
|||
| Terakhir Diperbaharui Rabu, 30 November 2011 08:08 |